Rabu, 06 September 2017

MENGENAL BAMBANG BE SUSILOHADI



SUTRADARA PAGELARAN DRAMA TARI KOLOPAKING WISUDHO DI TMII
Pagelaran duta kesenian kabupaten Kebumen di Anjungan Jawa Tengah dengan lakon Kolopaking Wisudho, pada 30 April nanti, adalah merupakan pagelaran dramatari garapan sutradara Bambang Eko Susilohadi, S.Pd, yang akrab disapa Bambang BE atau bahkan ada beberapa teman sejawat cukup memanggilnya dengan BE saja.
Disela-sela latihan persiapan pementasan tersebut Pria kelahiran Karangsari, Sruweng, Kebumen tahun 1962, atau 55 tahun yang lalu, menceritakan proses kreatifnya pada dunia kesenian di Kebumen.
Kegiatan berkesenian BE, sudah dimulai dengan menjadi penari Bambangan Cakil, sebagai tokoh wayang Cakil, atas bimbingan bapaknya Suwignyo Hadi yang dalang wayang orang, yang pada saat itu menjadi guru di Sekolah Tehnik (ST) 2 Karanganyar, yang pensiun sebagai guru STM Kebumen di Gombong. Ketika itu BE masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar tahun 1975. BE sempat melanjutkan sekolah di STSI Surakarta meskipun tidak selesai, dan pendidikan S1 nya didapat dari Pendidikan Bimbingan Konseling di IKIP PGRI Semarang.
Bambang BE berkeinginan masyarakat lebih mencintai kesenian asli Kebumen dan  berharap ada estafet regenerasi dari generasi  tua  ke generasi muda, agar pelestarian tetap terjaga. Ketika generasi muda mengenal dan memahami kesenian sendiri, yang pada akhirnya akan terbentuk karakter yang baik pada generasi muda.
Sampai saat ini Bambang BE yang bekerja di bidang PDK seksi  Kebudayaan Dinas Pendidikan Kebumen ini telah terlibat di berbagai aktifitas kesenian tradisional di Kebumen. Baik dari garapan Tari, Gendingan atau Karawitan, Kethoprak,  Wayang Kulit, Jemblung , Jamjaneng maupun Calung.  Aktifitasnya di berbagai seni tradisional itu semata-mata mengikuti kemauan masyarakat sekitar yang akan berlatih. Seandainya ternyata  ia belum bisa pun, Bambang BE akan terus berusaha belajar untuk bisa, entah dengan bagaimanapun caranya.
BE telah mencoba menggabungang antara wayangan dengan iringan Jamjaneng, juga menggabungkan antara gaya Ebleg selatan jalan raya dan gaya Ebleg sebelah utara jalan raya  menjadi satu gaya, yang kemudian menjadi Ebleg Kebumenan.
Menurut Bambang BE, jika garapan gending karawitan di Kebumen yang memiliki notasi gending tersendiri, mau berdasarkan dari pengembangan kesenian asli Kebumen yaitu seni Jamjaneng, maka Kebumen akan sugih gending karawitan, Kebumen akan memiliki ribuan garapan gending,  bahkan  lebih banyak dari pada Solo.
Tari gubahan BE, yang berdasar dari kesenian Tradisional Cepetan, yang di beri judul Tari Kekayon,   pernah menjadi bahan penelitian mahasiswa dari STSI Solo dalam rangka penyusunan skipsi untuk meraih gelar sarjana.
Ketika Benteng Van Der Wijck Gombong mendapat kunjungan tamu para jurnalis dan awak media dari ibukota, BE sempat menyuguhkan garapan seni yang merupakan gabungang antara Jamjaneng, Calung dan Lenggeran.
BE Susilohadi yang juga sebagai anggota pleno Dewan Kesenian Kebumen, mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap keberadaan DKD Kebumen. Menurutnya keberadaan DKD Kebumen sebenarnya akan dapat semakin memajukan perkembangan kesenian di Kabupaten Kebumen, hanya sayangnya DKD Kebumen memiliki banyak keterbatasan baik pada fasilitas maupun anggaran, sehingga DKD tidak dapat melaksanakan fungsinya secara maksimal. BE berharap Pemerintah Daerah Kebumen dapat memberi dukungan baik fasilitas maupun segi pendanaan, sehingga DKD Kebumen dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal. Sebab bila DKD tidak memiliki dukungan dana, maka akan menjadi seperti macan yang tidak punya gigi atau macan ompong. Meskipun ia mengakui ada beberapa kegiatan DKD yang dapat dilaksanakan dengan minim anggaran.
BE mengingatkan bahwa di Kabupaten Kebumen sebenarnya memiliki potensi kesenian yang luar biasa tebukti sering menjadi juara baik tingkat  propinsi maupun nasional . Setidaknya telah 2 kali berturut-turut menjadi juara 1 dan 1 kali menjadi juara 3 pada Festival Olah Raga Tradisional tingkat Jawa Tengah. Potensi kesenian di Kebumen membutuhkan perhatian dan penanganan yang sebaik-baiknya dari Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat, agar potensi kesenian tersebut dapat memberikan manfaat, baik secara sosial budaya maupun secara ekonomi bagi masyarakt Kebumen, sehingga kesenian dapat turut serta berpartisipasi pada program-program pemerintah, utamanya dalam program pengentasan kemiskinan di Kebumen

Kebumen Mborong Kejuaraan Di Batik Carnival Cilacap




Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen kembali mengharumkan nama Kebumen. Kali ini memborong 3 kejuaraan sekaligus,  dalam even batik carnival pada Gelar Budaya Bercahaya 2017 di Cilacap, Minggu(5/3) 2017. Pada kegiatan yang diselenggarakan sebagai rangkaian hari jadi kota Cilacap bercahaya tersebut, DKD Kebumen mengutus Tim Batik Carnival dari Griya Paes Kedawung Pejagoan pimpinan Widadi Prasetyo, S.Pd, untuk mengikuti festival.
Tim Batik Carnival Griya Paes yang beranggotakan 9 orang personil, diantaranya Widadi Prasetyo, S.Pd, Soni Setiawan, S.Pd. Basit Ali Najah, dan Andika Yahya itu, berangkat dengan mengusung 3 tema kostum batik carnival; Pangeran Tudung, Eksotika Wijaya Kusuma dan Garudanesia.
Pada lomba tingkat Karesidenan Banyumas Kedu yang diselenggarakan oleh Sanggar Priyambodo, Asosiasi Pemuda Pemudi Indonesia Cilacap (APPIC ) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap itu,  berlangsung di Aula Cagar Budaya Bau Salim, yang merupakan Pendopo Cilacap tempo dulu. Lomba diikuti oleh 15 peserta, utusan dari Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan Purworejo. Ada 4 juara yang diperebutkan  juara 1,2,3 dan juara favorit, Tim Batik Carnival Griya Paes berhasil memborong 3 juara, yaitu Juara I, Juara 2 dan Juara Favorit, masing-masing untuk Pangeran Tudung, Eksotika Wijaya Kusuma dan Garudanesia.
Perancang Seni Rias Fantasi dari Griya Paes Kedawung, Soni Setaiwan mengatakan bahwa dari awal penonton sudah terpukau oleh penampilan tim Batik Carnival dari Kebumen yang spektakuler. Bahkan sampai membuat macet arus lalu lintas. Karena Panitia sangat mengagumi hasil rancangan dari Kebumen, maka pada acara Pawai Budaya dalam puncak acara HUT Cilacap, pada 25 Maret nanti kostum Kebumen akan dipakai oleh Duta Wisata Kabupaten Cilacap. Panitia juga mengundang Tim Batik Carnival Kebumen untuk juga mengikuti lomba sejenis pada puncak acara HUT Cilacap tersebut.
Soni menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Pengurus DKD Kabupaten Kebumen, yang telah memberikan dukungan yang sangat besar, sehingga Timnya berhasil meraih 3 kejuaraan di even tersebut. Soni berharap Pemkab Kebumen nantinya akan memberikan dukungan fasilitas yang memadai pada DKD Kebumen, sehingga kedepan DKD dapat berpartisipasi lebih besar pada setiap pengiriman kontingen atau duta seni dan budaya ke luar daerah.
Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas prestasi yang telah dicapai oleh Tim Batik Carnival dari Griya Paes Kedawung Pejagoan. Bahwa dukungan DKD Kebumen tidaklah seberapa dibanding prestasi yang telah dicapai. Bahkan secara umum DKD Kebumen meminta maaf pada beberapa tim atau kontingen seni dan budaya yang dikirim ke luar daerah. Karena DKD Kebumen hingga saat ini belum bisa berbuat banyak. DKD Kebumen masih sangat terbatas dalam memberikan dukungan dalam banyak hal kepada kontingen atau duta seni dan budaya yang dikirim ke luar daerah, hal tersebut terkendala oleh keterbatasan yang ada pada DKD Kebumen. Meskipun demikian DKD berharap keterbatasan tersebut, tidak menyurutkan semangat teman-teman pelaku seni di Kebumen, untuk berprestasi mengharumkan nama Kebumen tercinta. Semoga saja diwaktu-waktu mendatang keadaan DKD Kebumen akan lebih baik sesuai semboyan Kebumen Kudu Tambah Maen.

ALUNAN SITER TERANG BULAN

Pada Sabtu malam(11/02), bertepatan dengan malam bulan purnama, bertempat di Teratai Blambangan Resto Kebumen dipentaskan acara yang sangat langka yaitu siteran, oleh pengamen siter jalanan Sutirah, 62 tahun, warga Purwogondo, RT.04/03  Kecamatan Kuwarasan. Pada pementasan tersebut Mbah Sutirah didampingi oleh pasangan mainnya, Murti, 54 tahun, warga dukuh Pancasan RT.01/02 Grenggeng, Kecamatan Karanganyar.
Murti bertugas sebagai penabuh Bas bethot, yaitu alat musik yang terbuat dari kotak kayu dan diberi dawai karet bekas ban dalam sepeda, yang berfungsi sebagai kendang pengiring petikan siter mbah Sutirah. Dengan tabuhan “kendang” ini maka petikan siter mbah Sutirah menjadi semakin rancak, dinamis dan menarik.
Mbah Sutirah telah yang telah menjadi pengamen jalanan sejak tahun 1980 ini, medapatkan kepiawaian memetik sitar dari almarhum bapaknya, yang bernama Masudi,. Ia telah ngamen berkeliling sampai ke Pengandaran, Banyumas dan purworejo.
Pada malam purnama itu, dengan suara tuanya yang parau, mbah Sutirah masih lantang melantunkan beberapa tembang jawa. Baik yang sudah sangat popular seperti lagu Caping Gunung, maupun yang sangat klasik seperti jineman Uler Kambang maupun Kutut Manggung. Bahkan pada lagu Waru Doyong, sempat melontarkan beberapa parikan jenaka yang “nakal” yang memancing gelak tawa para penonton. Bahkan ada beberapa penonton yang tergoda berjoget saat menikmati lagu tersebut.
Menurut Suryanto, atau Ki Surya, 54 tahun pemilik Teratai Blambangan, Ia sengaja mendatangkan pengamen siter jalanan untuk pentas di resto miliknya ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kesenian tradisional yang saat ini telah terpinggirkan, dan juga keinginannya untuk ikut nguri-uri kesenian tradisional Siteran tersebut.
“Saya sudah lama ingin nanggap siteran di rumah saya, Alkhamdulilah baru terlaksana malam hari ini, itupun setelah saya bertemu mbah Sutirah saat ngamen di Alun-alun Kebumen beberapa waktu lalu”. Kata Ki Surya.
Menurut Pekik Sat Siswonirmolo, Ketua DKD Kebumen yang turut menyaksikan pementasan tersebut mengatakan bahwa pementasan siteran ini merupakan wujud nyata dari kepedulian dan keinginan turut serta melestarikan seni tradisional yang telah langka. Untuk itu DKD memberi apresiasi yang tinggi pada pentas tersebut.
“ Ajakan untuk melestarikan kesenian tradisionan itu jangan hanya slogan yang membuai, tetapi harus ada tindakan yang nyata, yaitu nanggap dan memberi imbalan yang layak pada pelaku keseniannya”.
“Jangan dengan berkedok melestarikan kesenian, malah nanggap gratis kelompok kesenian, untuk memeriahkan suatu acara, dengan hanya menyediakan fasilitas yang terbatas, atau hanya menyediakan kesempatan pentas”.

TASYAKURAN GROUP KRONCONG THE GENERATIONS.



Group Keroncong asal Kebumen  The Generations, berhasil menggondol juara ke 3, pada Lomba Keroncong Jawa Tengah, yang diselenggarakan 04 Februari 2017 lalu, di Hotel Candi Sari Karanganyar Kebumen.
Sebagai ungkapan rasa syukurnya, pada Sabtu malam (11/02) bertempat di Balai Kelurahan Kebumen menggelar acara malam Syukuran, berupa pagelaran keroncong, yang berlangsung dri pukul 20.30 sampai 24.00. Acara tersebut dihadiri oleh komunitas keroncong di Kebumen, dan juga beberapa tamu pecinta musik keroncong dari luar kota Kebumen, diantaranya dari Gombong, Kutoarjo,Purworejo, dan Solo.
Hadir pula pada acara tasyakuran tersebut Pengurus Himpunan Artis Musik Keroncong Republik Indonesia (HAMKRI) Kabupaten Kebumen, yang juga sesepuh keroncong Kebumen,  H. Sutjipto Nugroho, SE, MM dan Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo.
Menurut Ketua group Keroncong The Generations, AKP Hari Harjanto, yang juga anggota Polisi di Polres Kebumen, bahwa acara pada malam itu adalah slametan syukuran atas kejuaraan yang diraih, oleh group keroncong The Generations.
AKP Hari Harjanto  juga menjelaskan bahwa group Keroncong The Generations, baru terbentuk sekitar 9 bulan yang lalu, pada saat mengikuti lomba jumlah personilnya terdiri dari 7 orang pemusik dan 2 orang vokalis, yang semua berasal dari lokal Kebumen. Pada awalnya group Keroncong The Generations itu adalah group Keroncong  Irama Walet, yang beberapa waktu yang lalu surut, mengalami kelesuan. Kemudian Hari Harjanto mencoba membangkitan kembali dengan suasana baru, semangat baru, nuansa baru, tetapi tetap dengan tidak meninggalkan kroncong yang asli.  Nama The Generations  sendiri dikandung maksud melestarikan generasi keroncong Kebumen. Oleh karena itu anggotanya memang kebanyakan masih muda muda semua.
Bahkan 2 orang vokalis kroncong pada group tersebut,  yang ikut pada saat lomba, usianya masih sangat muda. Mereka adalah  Yudha Firmansyah, usia 13 tahun, siswa kelas VII A SMP Negeri I Kebumen, dari Karanggedang Sruweng.  Yudha Firmansyah baru 4 bulan belajar menjadi penyanyi keroncong. Dan  Putri  Yunitasari, Siswi kelas VI SD  Kutosari I Kebumen, yang juga berasal dari Karanggedang Sruweng.
Dari kejuaraan yang berhasil dirain ini, Hari Harjanto, berharap group Keroncong The Generations, kedepan akan sukses selalu, anggotanya semakin kompak, dan tetap dapat melestarikan musik Keroncong budaya asli Indonesia.

Lomba Drama Remaja DKD 2017 se Kabupaten Kebumen

Lomba Drama Remaja se Kabupaten Kebumen digelar hari Minggu, 29 Januari 2017; di Aula PGRI, Jl. Kaswari Kebumen. Lomba yang diselenggarakan oleh DKD (Dewan Kesenian Daerah) Kab. Kebumen ini diikuti oleh 9 (sembilan) kelompok drama dan  teater yang berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Diantaranya SMA Negeri 1 Kebumen, SMA Negeri 1 Karanganyar, SMK Negeri 1 Karanganyar, SMU Muhammadiyah Gombong, SMA Negeri Klirong, MA Salafiyah Wonoyoso dan dari 1 kelompok dari IAINU Kebumen.
 Pelaksanaan kegiatan lomba yang merupakan program kegiatan DKD Kebumen di tahun 2017 ini didukung oleh PGRI Kab. Kebumen. Tampil sebagai penampil terbaik I Teater Karang dari SMA Negeri 1 Karanganyar dengan lakon Sintren. Penampil Terbaik II Teater Exsorcisem SMA Negeri 1 Kebumen dengan lakon Roro Jongrang, sedangkan Penampil Terbaik III Teater Gasmeka dari SMK Negeri 1 Karanganyar dengan lakon Darah Pejuang, Penampil Terbaik  Harapan I dari Teater Akar SMA Karanganyar, Penampil Terbaik  Harapan II dari :  Teater Kelir SMA I Klirong, dan Penampil Terbaik  Harapan III Teater Senja           SMA Muhammadiyah Gombong. Selanjutnya untuk Penyutradaraan Terbaik diraih Teater Karang SMA Negeri Karanganyar pada lakon Sintren. Aktor/Aktris Terbaik diraih oleh Anisah Inayati pemeran Sumini dalam lakon Sintren produksi Teater Karang SMA Karanganyar, Artistik Terbaik diraih Teater Exsorcisem SMA Negeri 1 Kebumen pada lakon Roro Jongrang.
 Ketua Umum DKD Kab. Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo, saat menyaksikan pelaksanaan lomba menyampaikan terima kasih kepada PGRI Kebumen yang telah memberi fasilitas tempat  demi terselenggaranya kegiatan lomba. Meskipun untuk pelaksanaan lomba drama yang standar DKD masih mengalami kesulitan, mengingat kurangnya fasilitas yang memadai, tetapi diharapkan lomba ini sebagai tahapan dari proses yang tidak lalu berhenti saat lomba diselenggarakan. Tetapi dapat memberikan motivasi lebih lanjut bagi pegiat seni teater, untuk memicu proses kaderisasi berkesenian, terutama bagi kalangan remaja di Kabupaten Kebumen.
Seperti kita ketahui bersama bahwa hingga saat ini Kebumen belum memiliki gedung kesenian yang memadai. Jangankan gedung kesenian, hingga saat ini DKD Kebupaten Kebumen juga belun memiliki kantor sekretariat.
“Seni drama atau teater ini hendaknya dapat pula menjadi wahana pendidikan karakter bangsa”, harapan Pekik Sat Siswonirmolo.
 Ketua Pelaksana lomba Pitra Suwita pada sambutan pembukaan menyampaikan “ Pada Lomba Drama Remaja DKD 2017, dengan tema Remaja Berbudaya Remaja Cinta Indonesia yang memperebutkan Piala Bupati Kebumen, trophy DKD, uang pembinaan dan bingkisan ini, diselenggarakan sebagai agenda tahunan  DKD Kabupaten Kebumen, diharapkan dapat menumbuh kembangkan kecintaan terhadap kesenian drama atau teater di kalangan remaja, pada khususnya dan pelajar di Kabupaten Kebumen pada umumnya.

Tiga Yuri, Tiga Kriteria.
 Penyutradaraan, keaktoran dan artistik; merupakan tiga aspek kriteria yang didinilai pada lomba tersebut. Untuk menjaga kualitas dan obyektifitas penilaian pada lomba tersebut, panitia pelaksana mendatangkan 1 orang yuri dari luar kota, yaitu: Indriotomo Brigandono atau akrap disapa Masendro, Praktisi Teater dari Jakarta, yang didampingi Achmad Marzoeki, ST (Kang Juki) dan Ary Susanto, SE, dari pengurus DKD Kebumen.
 Beberapa rekomendasi dari ketiga yuri bagi 9 kelompok peserta yang berasal dari 6 sekolah dan 1 perguruan tinggi, yaitu bahwa berkesenian teater (drama) bukan sekedar sebuah pementasan dengan menyelesaikan hafalan naskah semata. Perlunya manajemen pementasan dengan memperhatikan beberapa aspek dramaturgi dan hal-hal teknis lainnya dalam pementasan drama. Rekomendasi ini diharapkan menjadi masukan yang berharga bagi pengembangan seni drama di Kabupaten. Kebumen.     

RUWAT KABUMIAN UNTUK KEBUMEN LEBIH BAIK



Ketua Umum DKD Kabupaten Kebumen, mendukung adanya acara budaya Ruwat Kabumian, Pernyataan tersebut disampaikan pada acara pertemuan antara perwakilan DKD dan Komunitas Supranaturalis dan Pelestari Budaya Jawa selaku penggagas acara budaya tersebut, pada  Minggu (15/1) di kediaman pribadi Ketua Umum DKD, RSS Jatimulyo Alian.
Ruwat Kabumian merupakan satu kegiatan seni-budaya, yang memiliki fungsi fundamental pendidikan kebudayaan dalam program pembangunan, utamanya pembangunan karakter suatu masyarakat.  Mengutip pernyataan Presiden Ir.H. Joko Widodo, Tanpa pembangunan kebudayaan, baik itu kesenian, sastra, tradisi lokal ataupun pemikiran budaya, sebuah bangsa akan kehilangan spirit dan ruh kehidupan masyarakatnya. Karena masyarakat yang kehilangan nilai budaya dan tidak mampu mengaktualisasikan seni-budaya mereka akan menjadi masyarakat yang kehilangan fondasi etik dalam tatanan kehidupan mereka.
Ikut hadir juga pada pertemuan tersebut antara lain Ketua DKD Ki Bambang Cermo Budhi Carita, S.Pd. Supranaturalis Ki Mujiono, S.Pd, Spiritualis Ki Sugeng Winarto, Seniman Sulap John Silombo dan Pelukis Ki Surya.
Menurut Ki Mujiono, pelaksanaan Ruwat Kabumian akan di pusatkan di Teratai Blambangan Resto, pada hari Kamis Wage, 19 Januari 2017. Acara budaya Ruwat Kabumian tersebut dilatar belakangi adanya rasa keprihatinan yang mendalam para seniman, supranaturalis, Spiritualis dan pegiat pelestari budaya jawa, di dalam menyaksikan keadaan Kebumen akhir-akhir ini. Seperti kegagalan musim tanam para petani, dan berbagai bencana alam, banjir, tanah longsor dan lain-lain, yang menimpa kabupaten Kebumen.
Sehingga pada kegiatan Ruwat Kabumian ini akan dipanjatkan doa bersama dan  beberapa harapan bagi  Kabupaten Kebumen dimasa-masa yang akan datang. Harapan tersebut diantarnya  agar kedepan Kebumen menjadi lebih baik, dan terbebas dari segala bencana.
Pemilik Teratai Blambangan Resto, Ki Surya yang juga seniman lukis berharap dengan pelaksanaan Ruwat Kabumian akan terbangun rasa kepedulian dan kebersamaan antara seniman dan pegiat pelestari budaya jawa, selain itu Ia berharap warga Kebumen akan terhindar dari penyakit dan dijauhi mara bahaya. Pada akhirnya ia berharap adanya pemimpin yang jujur dan amanah bagi kabupaten Kebumen.
Ditambahkan oleh seniman Sulap Kebumen John Silombo, bahwa pada pelaksanaan Ruwat Kabumian yang rencananya akan dimulai pukul 16.00 WIB. itu nantinya pesertanya  bersifat terbuka untuk umum, artinya siapa saja boleh mengikuti kegiatan tersebut, hanya saja bagi peserta pria disyaratkan harus memakai tutup kepala blangkon atau iket. Sukur-sukur mau memakai pakaian adat jawa secara lengkap.
Ki Mujiono menjelaskan materi acara pada Ruwat Kabumian, berupa Kirab Tumpeng Kuat, dilanjutkan dengan Kepungan Ruwatan atau ritual doa bersama, yang pada malam harinya dilanjutkan dengan acara apresiasi seni dan sarasehan tentang budaya Jawa, dengan pembicara Ki Bambang Cermo Budhi Carita, yang juga dalang dari Jatijajar.

Luonching Program Siswa SD Gemar Mengaji

UPTD Dikpora Kuwarasan pada Senin (26/12), bertempat di SD Negeri I Purwogondo Kecamatan Kuwarasan, menyelenggarakan Luonching Program Siswa SD Gemar Mengaji Dengan Gerakan Mematikan Televisi Saat Waktu Mengaji (GMT SATU AJI).
Menurut Gim Warjito, S.Pd. M.Pd. Kepala Dinas Dikpora kec Kuwarasan pada acara yang cukup meriah  tersebut, dihadiri oleh lebih dari 400  orang tamu undangan, yang terdiri dari Camat Kuwarasan Triyono SH, Muspika Kuwarasan, Kepala Desa se kecamatan Kuwarasan, Kepala Sekolah se kecamatan Kuwarasan, Perwakilan Pengurus Komite setiap sekolah dasar se kecamatan Kuwarasan , anggota paguyuban wali siswa SD se kecamatan Kuwarasan, Ketua DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo dan masyarakat sekitar.
Pada kesempatan Tersebut Gim Warjito menjelaskan bahwa Program Siswa SD Gemar Mengaji Dengan Gerakan Mematikan Televisi Saat Waktu Mengaji (GMT SATU AJI), yang didukung oleh Paguyuban Kepala Desa  dan K3S Kecamatan Kuwarasan tersebut, dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa baik TK maupun SD untuk lebih giat melaksanakan  kegiatan mengaji. Utamanya pada saat sekarang ini  bila diperhatikan pada jam-jam tertentu masih banyak anak-anak yang melakukan kegiatan secara liar, baik ditanah lapang, di jalanan atau bahkan di sungai. Maka harapannya dengan adanya gerakan ini, nantinya anak-anak setelah jam 4 sore anak-anak bisa berangkat mengaji .
Menutut Gim Warjito, bila anak-anak gemar mengaji dengan baik maka biasanya akan menjadikan anak-anak tersebut juga gemar untuk belajar pelajaran yang lain termasuk pelajaran sekolah.
Gim Warjito mengajak kepada orang tua siswa, dan masyarakat Kuwarasan untuk ikut mendukung gerakan ini dengan cara mematikan alat komunikasinya, baik televisi, maupun HP.
Menurut Gim Warjito  ada 7 langkah yang sudah disiapkan untuk mensuksekan program tersebut yaitu ;
Pertama dengan menyediakan fasilitas gedung, sudah ada Baitul Najah  atau Rumah Kesuksesan di komplek UPTD Dikpora Kuwarasan, kedua memfasilitasi TPQ sekolah  agar tumbuh secara intensif, membintek  guru untuk dapat mengajar di TPQ dengan benar, menyelenggarakan lomba Mabsi sebagai langkah evaluasi, memfasitasi para guru untuk wajib mengikuti pengajian untuk ibu-ibu guru pada hari Selasa dan untuk bapak-bapak guru pada hari Kamis, dari pukul 12.30 s/d 14.00 WIB. Berikutnya mengadakan pengajian umum rutin semua kepala sekolah dan guru setiap hari Kamis minggu ke 4, dan menumbuhkan dukungan masyarakat dengan gerakan mematikan televisi dan alat telekomunikasi saat anak  waktu mengaji
Ketua panitia kegiatan tersebut Kepala Desa Serut, Taufik Mundarto menambahkan bahwa dalam rangka pencanangan Program Siswa SD Gemar Mengaji Dengan Gerakan Mematikan Televisi Saat Waktu Mengaji (GMT SATU AJI) tersebut juga dimeriahkan dengan Lomba Panembrama dan Lomba Gerong. Lomba diikuti oleh 16 peserta, yang berasal dari guru-guru Paud, guru-guru TK, guru-guru SD, dan grup perwakilan dari desa di kecamatan Kuwarasan. Para pemenang lomba tersebut nantinya akan mendapat hadiah Trophy dan uang pembinaan. Harapannya dengan adanya lomba tersebut akan membangkitkan seni budaya jawa yang mati suri, sehingga akan bangkit kembali. Karena pada lomba panembromo dan gerong yang berupa lomba paduan suara dengan tembang-tembang jawa tersebut, akan dapat melibatkan jumlah pesert yang banyak.
Camat Kuwarasan Triyono SH. menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada panita penyelenggara, yang dinilai cukup  berhasil menyelenggarakan kegiatan. Beliau berharap kegiatan tersebut dapat menjadi teladan bagi generasi muda untuk lebih mengenal seni budaya jawa.
Lebih lanjut Gim Warjito menyampaikan bahwa kedepan pihaknya juga berencana membekali Guru untuk lebih menguasai ketrampilan berbahasa jawa, seni tradisi dan budaya jawa.
Bahkan  menurut Gim Warjito dan Kepala Desa Serut, Taufik Mundarto, bila di kabupaten Kebumen telah ada Kampung Inggris dan Kampung Arab, maka kedepan berencana akan membangun Desa Kromo inggil di kecamatan Kuwarasan, yang diharapkan akan menjadi pelopor bagi desa-desa yang lain di kabupaten Kebumen.