Rabu, 06 September 2017

AUDENSI PENGURUS DKD DENGAN BUPATI KEBUMEN.



AUDENSI PENGURUS DKD DENGAN BUPATI KEBUMEN.
Pengurus harian Dewan Kesenian Daerah (DKD) kabupaten Kebumen menghadap Bupati Kebumen HM Yahya Fuad, Sabtu sore (26/11).Pada pertemuan yang digelar di Rumah Dinas Bupati Kebumen tersebut Ketua Umum DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo, selain didampingi Penasehat DKD Achmad Marzoeki ST, juga didampingi Ketua 1 DKD Ki Bambang Budiono S.Pd, sekertaris DKD Putut Ahmad Su’adi S.Hum, Bendahara 1 Ary Susanto SE, dan Bendahara 2, M. Habib Muslim.
Dalam pertemuan dengan Bupati Kebumen, HM Yahya Fuad yang berlangsung hampir 1 jam itu, Ketua DKD memaparkan beberapa program kegiatan DKD Kebumen tahun 2016, yang baru akan dilaksanakan pada sekitar bulan Desember. Program kegiatan tersebut diantaranya Sarasehan Budaya, Lomba Drama Remaja, Lomba dan Pameran Foto.
Pada kesempatan tersebut Ketua DKD menyampaikan permohonan kepada Bupati untuk berkenan memberi Trophy Bupati untuk masing-masing juara lomba yang akan diselenggarakan DKD, dan juga memohon agar Bupati berkenan hadir pada Sarasehan Budaya yang akan diselenggarakan oleh DKD nanti.
Selanjutnya Ketua DKD menyampaikan bahwa hingga saat ini DKD Kebumen belum dapat maksimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai sebuah lembaga yang merupakan mitra kerja Pemerintah Kebumen,  yang bertugas ikut merumuskan arah kebijakan guna mendukung kegiatan pembangunan dalam bidang pengembangan kehidupan kesenian di Kebumen. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya hingga saat ini DKD belum memiliki kantor kesekretariatan, sebagai base camp koordinasi pengurus, dan juga terbatasnya anggaran. Bahkan pada tahun anggaran 2015 yang lalu, tak ada dana yang dialokasikan untuk DKD. Untuk itu DKD sangat mengharapkan perhatian dari Bupati Kebumen akan permasalahan tersebut.
Bupati Kebumen, HM Yahya Fuad, menyambut baik kehadiran pengurus DKD Kebumen, beliau menanggapi beberapa permasalahan yang dipaparkan pengurus DKD dengan sungguh-sungguh.Bahkan hampir semua permintaan DKD pada pertemuan tersebut disetujui oleh Bupati.  Mengingat pada saat sekarang ini pemkab Kebumen tengah melaksanakan penataan, maka harapannya akan ada tempat untuk sekretariat DKD Kebumen. Untuk itu DKD disarankan secara resmi mengajukan permohonan kantor sekretariat secara tertulis. Bupati juga berharap agar DKD lebih proaktif, melibatkan diri pada agenda-agenda kesenian di Kebumen.

SURAN PAGUYUBAN KESENIAN TURONGGO RESMI AMBAL



Sudah menjadi agenda rutin setiap bulan Sura dalam kalender Jawa, masyarakat di daerah pesisir selatan Kebumen mangadakan berbagai kegiatan ritual budaya, tradisi suran.  Kegiatan Suran merupakan ritus tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Suro ( Muharam), merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan merupakan media untuk memohon keselamatan serta kesejahteraan kepada Alloh SWT, serta merupakan momentum untuk bermuhasabah atau mawas diri. Pada umumnya tradisi Suran dilaksanakan oleh masyarakat maupun juga oleh komunitas kesenian.
Demikian halnya yang dilaksanakan oleh Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal. Bertempat di halaman rumah Sanpawiro Rebo, sesepuh dukuh Manis Jangan RT.01 RW.03 Ambal Resmi Ambal pada Rabu(29/10) pagi, digelar Tasyakuran Suran, Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal.
Pada tasyakuran yang rutin selalu diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro oleh paguyuban Turonggo Resmi  ini, juga digelar berbagai kesenian tradisional. Diawali dengan pentas kesenian Campursari, dilanjutkan dengan peragaan pencak Konto berpasangan oleh pasangan Sanpawiro Rebo, kemudian kesenian Kuda Kepang yang disebut Kepang Pur Wanita dan Kepang Pur Laki-laki lengkap dengan barongan. Tasyakuran Suran Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal, berlangsung dari jam 10 pagi hingga malam hari, dihadiri ratusan warga sekitar, juga Kepala desa dan Perangkat desa Ambal Resmi.
 Ketua DKD Kebumen yang turut hadir pada pagelaran kesenian tersebut, menyatakan bangga, namun juga terharu, menyaksikan semangat Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal, meskipun dalam keadaan yang serba terbatas baik dalam kostum maupun peralatan gamelan pengiring, akan tetapi tetap gigih berkesenian. Pada kesempatan itu, DKD Kebumen meminta maaf pada komunitas kesenian tersebut, karena DKD Kebumen tidak dapat memberi bantuan apa-apa, mengingat kondisi DKD Kebumen sendiri sampai saat ini juga masih serba terbatas, disamping DKD belum memiliki tempat sekretariat, juga belum memiliki dana operasional untuk kegiatan. Untuk itu DKD hanya berdoa semoga Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal dapat terus lestari dan lebih berkembang.
Mbah Sanpawiro Rebo sesepuh paguyuban seni Turonggo Resmi Ambal menyatakan Paguyuban Kesenian Turonggo Resmi Ambal berdiri sejak tahun 1970, beranggotakan 30 orang dengan bentuk kesenian kuda kepang yang oleh masyarakat sekitar disebut Kepang Pur. Pada saat ini ada Kepang Pur Laki-laki, Kepang Pur Wanita, dan kesenian pencak silat atau Konto.
Menurut Mbah Sanpawiro Rebo, yang didampingi  Sairan pemain Kepang Pur, dan Kadus Robingan menyatakan, acara Tasyakuran Suran ini sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Alloh SWT, mengingat beliau menjadi orang yang dituakan di dukuh Manis Jangan, masih dipercaya untuk dimintai pertolongan, dan bersama-sama dengan seluruh anak cucu dan masyarakat sekitar hingga saat ini telah diberi Kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan oleh Alloh SWT.

DRAMA KOMEDI SANDRA TARI



DRAMA KOMEDI SANDRA TARI

HUT 17 TAHUN SMP N 2 AMBAL
 Dalam rangka peringatan hari ulang Tahun SMP N 2 Ambal, yang  merupakan agenda rutin setiap tahunnya yang di warnai berbagai macam kegiatan diantaranya pertandingan bola voli antar SD Se Kecamatan Ambal Lomba Kebersihan Kelas ,Pameran Seni Rupa Karya Siswa dan kegiatan olah raga gembira yang diprakarsai langsung oleh Bapak Drs.  Dwi Aris Pambrasto, M. Pd. sebagai pengampu mapel olah raga.
Pada peringatan ulang tahun SMP Negeri 2 Ambal yang ke-17,  kali ini mengusung tema Dengan Semangat HUT Kita Kembangkan Prestasi Seni Budaya dan Kreatifitas Siswa. Ada yang tidak kalah menarik dari seluruh rangkaian lomba, yaitu lomba PENSI ( Pentas Seni Antar Kelas) kolosa.  Berbagai macam kreatifitas siswa di bidang seni yang di ikuti seluruh kelas ( 7,8,dan 9).
Menurut Drs. Suprapto ,M.Pd. selaku Kepala Sekolah kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kreatifitas anak dalam berkarya seni. Selain itu, Bapak Narordi selaku Wakasek juga mengatakan bahwa antusias para siswa cukup tinggi dan perlu diapresiasi, untuk itu kedepan perlu disiapkan lebih matang, baik dari konsep acara maupun pelaksanaan di lapangan.
Lomba pentas seni kolosal siswa pada 19 Oktober 2016 ini dinilai oleh tiga juri yang sudah berpengalaman di bidang kesenian yaitu Bambang Cahyono, S.Sn., Tjatur Pangestuti, S.Pd., dan Bruri Dwi K, S.Pd.  Menurut salah satu juri yaitu Bambang Cahyono, banyak kelas yang menampilkan karya seni yang unik dan menarik, salah satu yang cukup memukau penonton adalah sebuah kisah Ramayana yang di plesetkan menjadi drama komedi, bukan lagi Sendra Tari Ramayana tapi Sandra Tari Rama Bingung yang mengundang tawa dari para penonton. Drama yang ditampilkan oleh kelas IX F ini bercerita tentang kisah cinta Rama yang diperankan oleh Pendi dan Sinta oleh Cindy, sementara Rahwana diperankan oleh Zaenal. Karena drama ini bersifat komedi, maka cerita dan kostumnya dibuat sedikit nyentrik.
Bambang Cahyono yang juga sebagai guru Bahasa Jawa merangkap pembimbing drama menambahkan jika siswa berlatih dengan serius dan mengikuti arahan pembimbing akan dapat menampilkan karya seni yang menarik. Karena kegiatan lomba pensi kolosal ini baru pertama kali dilaksanakan, maka masih banyak siswa yang masih kurang percaya diri dan menampilkan seni yang sederhana baik dari kostum maupun gerakannya.

GEBYAG SURAN DI WIROMARTAN



Pada Selasa malam (11/10) ratusan warga, tua dan muda berkumpul di Pendopo rumah Kepala desa Wiromartan Kecamatan Mirit, dalam rangka Gebyag Syuran, atau selamatan dalam rangka peringatan bulan Sura 1950 tahun jawa.
Pada kesempatan gebyag tersebut acara diawali dengan pementasan gendingan karawitan Wiro Budhoyo, dilanjutkan dengan untuk pertama kalinya dipentaskan paguyuban kesenian kethoprak Wiro Budhoyo yang didirikan oleh Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho. Acara diakhiri dengan kidungan tembang Macapat oleh Joko Sutiyono dan Sumarjono dari Ndudu wetan Kecamatan Grabag Purworejo.
Ketua DKD Kebumen yang turut menghadiri Gebyag Suran yang berlangsung hingga dini hari di Wiromartan, sangat mengapresiasi acara tersebut, mengingat kesenian yang di gebyag pada kesempatan tersebut merupakan jenis kesenian rakyat yang sudah langka. Kesenian seperti karawitan, kethoprak, bahkan kidhung Macapatan, sudah jarang ditampilkan di masyarakat. Generasi muda sudah banyak yang tidak mengenal tembang Macapat.
“Saya salut pada pak lurah Wiromartan yang telah turut berjuang nguri-uri kesenian tradisionil yang sudah langka, apalagi sampai mendirikan paguyuban karawitan dan kethoprak dengan melibatkan kalangan muda dari Karang taruna Wiromartan. Semoga acara semacam ini dapat menambah wawasan kesenian bagi generasi muda”
Menurut Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho, acara Gebyak Suran merupakan manifestasi doa  bersama dari seluruh pelaku kesenian desa Wiromartan, memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga memohon agar kelompok kesenian tersebut dapat terus berkembang. Dan dengan mengumpulkan masyarakat,  diharapkan agar masyarakat untuk ikut mendoakan dan nyengkuyung adanya kesenian tersebut.
Pada kesempatan tersebut Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho juga menyampaikan bahwa desa Wiromartan pada bulan Agustus lalu telah mencanangkan sebuah gerakan masyarakat yang disebut sebagai Gerak Maju, atau Gerakan Masyarakat Berjuang. Dalam gerakan ini berisi suatu ajakan kepada seluruh warga masyarakat Wiromartan agar bergerak berjuang untuk sehat, berjuang untuk melawan kemiskinan, dan berjuang untuk lebih handarbeni. Gerakan kesenian ini juga merupakan menjadi bagian dari  gerakan untuk lebih handarbeni terhadap.
Harapan Lurah Widodo Sunu Nugroho sangat sederhana, yaitu berharap agar supaya pembangunan di Wiromartan harus benar-benar mengakar, sesuai dengan ritme yang ada di masyarakat Wiromartan.
Dalam rangka pembinaan kesenian pada masyarakat di Wiromartan, Kepala Desa Wiromartan Widodo Sunu Nugroho mengaku tidak menemukan adanya kendala. Menurutnya yang ada itu tantangan untuk bagaimana memperbanyak masyarakat yang dapat terlibat dalam kegiatan kesenian  di Wiromartan.

DISKUSI MENELUSURI JEJAK SEJARAH KEBUMEN



Ki Basuki Hendro Prayitno dan Bambang Cahyono, S.Sn, M.Pd. memprakarsai sebuah forum diskusi tentang sejarah Kebumen, Jumat (30/9) bertempat di kediaman Ki Basuki Hendro Prayitno Ambal. Hal tersebut dilakukan karena terdorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam ketika melihat kenyataan bahwa hingga saat ini masih sedikit forum-forum kajian yang mengangkat materi sejarah Kebumen, yang dapat dijadikan referensi bagi masyarakat, khususnya untuk generasi muda. Disamping juga adanya beberapa versi tentang sejarah Kebumen. Pemerintah Daerah Kebumen sendiri mengakui ada tiga versi, seperti yang diutarakan melalui berbagai media publikasinya. Dengan demikian, tidak ada kepastian tentang sejarah Kebumen yang lengkap dan dipaparkan secara seragam kepada anak turun, terutama warga Kebumen. Adanya perbedaan versi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat tersebut, dikhawatirkan dapat menimbulkan “jurang pemisah”, sehingga dapat memicu perpecahan kekuatan dan kebersamaan dalam memajukan Kota Kebumen.
Diskusi tersebut selain dihadiri Pekik Sat Siswonirmolo dari DKD Kebumen, juga dihadiri perwakilan dari beberapa elemen masyarakat,Kebumen.
“Adanya perbedaan diantara kita adalah hal biasa, namun mencari titik temu diantara perbedaan kita adalah hal yang luar biasa” Kata Bambang Cahyono, S.Sn, M.Pd, yang juga guru SMP Negeri 2 Ambal, pada saat mengawali acara diskusi. Untuk itu ia  mengajak semua pihak seperti Pemerintah Daerah, DPRD, budayawan, kaum intektual, keluarga besar Trah Arung Binang,  keluarga besar Trah P. Bumidirjo, dan lain-lain untuk dapat duduk bersama menelusuri sejarah Kebumen.
Ki Basuki Hendro Prayitno dalang senior dari Ambal menambahkan, dari diskusi tersebut, apabila memungkinkan nantinya dapat dibuat sebuah buku tentang sejarah Kebumen dengan satu versi, yang dapat diwariskan secara seragam kepada generasi penerus, terutama warga Kebumen.Terwujudnya sebuah buku tersebut nantinya diharapkan, sebagai wujud sumbangan pemikiran, sebagai bahan diskusi bersama dalam rangka mencari kebenaran sejarah Kebumen. Oleh karena itu, buku tersebut tidak bermaksud membenarkan ataupun menyalahkan tulisan-tulisan yang telah ada tentang sejarah Kebumen, namun buku ini mencoba mengetengahkan perbedaan, persamaan dan mengkritisi tulisan-tulisan sejarah Kebumen yang sudah ada.
Dari DKD Kebumen sangat mendukung seandainya dari hasil diskusi tersebut kemudian dicatat sehingga pada akhirnya akan menjadi sebuah buku sejarah tentang Kebumen, yang dapat menjadi sumber kajian bagi berbagai pihak, khususnya generasi muda,  yang ingin mengetahui sejarah Kebumen, sehingga bagi warga masyarakat Kabupaten Kebumen akan memberikan rasa bangga dan memiliki, yang selanjutnya dapat menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada sehingga dapat memajukan pembangunan di segala bidang.
Menurut Putut Ahmad Su”adi S.Hum, peminat sejarah, yang juga guru di SMK Ma’rif 3 Kebumen dan SMA Islam Al Khafi Somalangu, bahwa dari versi sejarah yang ada perlu ada pencermatan kronologi, karena ternyata ada data tanggal yang sama dari peristiwa yang berbeda. Disamping itu Putut berharap, untuk pembahasan sejarah Kebumen harus bisa lepas dari sisi politik dan idiologi, sehingga akan lebih ilmiah. Karena sebenarnya berdasarkan fakta sejarah, tidak ada yang perlu diperdebatkan.  
Hampir senada yang disampaikan oleh Kepala desa Wiromartan Mirit, Widodo Sunu Nugroho, bahwa apabila diamati sejarah Kebumen selalu diwarnai dengan adanya pengkhianatan, meskipun demikian semua itu adalah fakta sejarah yang harus tetap diakui secara obyektif dalam sejarah.
Diakhir diskusi yang berlangsung cukup hangat tersebut disepakati kedepan akan diselenggarakan forum diskusi lanjutan, dengan jumlah peserta yang lebih besar, yang diharapkan dapat semakin menambah wawasan sejarah Kebumen, dengan melibatkan beberapa tokoh masyarakat yang peduli tentang sejarah Kebumen.

Senin, 05 September 2016

DKD Kebumen Buka Kelas Gamelan Tradisional

DKD Kebumen Buka Kelas Gamelan Tradisional
Minat generasi muda Kebumen terhadap seni karawitan dinilai sudah mulai memprihatinkan. Pasalnya, saat ini sangat jarang anak-anak muda yang mau belajar kesenian tradisional tersebut. Tak heran para pengrawit di kabupaten yang memiliki slogan Beriman ini didominasi oleh kalangan orang tua.

Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen, sebagai lembaga yang bertugas melakukan pembinaan terhadap kesenian pun tak tinggal diam. Saat ini, DKD rutin menggelar latihan menabuh gamelan seminggu dua kali, yaitu setiap Selasa malam dan Jumat malam.  Latihan bersama ini telah berjalan memasuki tahun kedua.
Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, mengatakan untuk kebutuhan berlatih pihaknya memanfaatkan gamelan milik Pemkab Kebumen yang sehari-hari berada di pendopo rumah dinas Bupati ataupun meminjam gamelan di SMP Taman Dewasa Kebumen. Pengampu pelatihan terdiri dari dua orang, yakni Bambang Budiono, dalang wayang kulit dari Jatijajar dan Sutardjo, praktisi gamelan dari Kelurahan Bumirejo, Kecamatan Kebumen.

"Pesertanya saat ini sudah sampai belasan," kata Pekik Sat Siswonirmolo, kepada Kebumen Ekspres disela-sela latihan, kemarin.

Ia menjelaskan, pelatihan kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan generasi seniman-seniman baru di Kebumen yang hampir ditinggalkan anak-anak muda. Selain itu, pelatihan tersebut tidak dipungut biaya apapun. "Peserta tinggal datang dan bergabung untuk latihan," ujarnya.

Selain itu, meski DKD tidak mendapatkan kucuran dana dari APBD Kabupaten Kebumen sejak 2015, namun semangat dewan kesenian tidak patah semangat untuk melakukan pembinaan dan pengembangan seni dan kebudayaan. Seperti acara Pawartos Kebumen (berita seputar Kebumen berbahasa Jawa), Selamat Siang Kebumen (SSK) berbahasa jawa, dan acara Ngadurasa, yang semuanya bekerjasama dengan Ratih TV Kebumen.

Tak hanya itu, DKD juga mengirimkan kontingen dalang bocah ke Festival Dalang Bocah ke Banjarnegara dan berhasil menjadi juara 1, 2 dan harapan 3 tingkat Jawa Tengah dan DIY.