Minggu, 04 September 2016

KETHOPRAK DANGSAK DKD KEBUMEN



”Reksa Mustika Bumi”
Ketoprak Dangsak Pentas Kolaborasi Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen
















https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjenXx138g4uuUAH1MWLYtvQiNZPvhm4nuoIxAxuwRn9_pN2vzver0U5PXapUuFZo5MYq3Bs-G1o5tZGAzhV0R6bZe0MfwmyUHaY_3msFK510evJe4bd-teIi-nJMf3VOlFsxxNPmwry3k/s1600/1367_caos-cepet.JPGDewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen kembali menggelar pentas kolaborasi Ketoprak Dangsak yang mengangkat lakon ”Reksa Mustika Bumi”, di panggung Jateng Fair PRPP Semarang, Senin (29/08) malam. Lakon yang diusung dalam pementasan ketoprak tersebut mengangkat isu nasionalisme, di tengah ancaman krisis kebanggaan generasi muda pada  potensi budaya daerah. Lakon ”Reksa Mustika Bumi” yang naskahnya ditulis oleh Pekik Sat Siswonirmolo membeberkan pertarungan antara kompeni yang  bernafsu menguasai daerah jajahan dengan masyarakat lokal daerah pegunungan atau pareden Kebumen.
Pentas lakon yang disutradarai oleh Pekik Sat Siswonirmolo dan  berdurasi dua jam ini melibatkan sekitar 30 pemain terdiri atas pelaku seni tradisi cepetan dari Desa Watulawang, teater Ego Kebumen, Paguyuban Seni Rasa Kawedar Kebumen, dan beberapa pengurus DKD Kebumen.
Pementasan ini juga didukung iringan gending digawangi oleh Ki Bambang Budiono (DKD) yang juga seorang dalang asal Desa Jatijajar, Ayah dan Ki Sutarjo S.Pd, guru SMP 2 Kutowinangun. Pementasan kesenian ini menggunakan  iringan gamelan dari SMP Taman Dewasa yang dikolaborasikan dengan Bass drum dan perkusi mas Aris, guru SMK Batik Sakti 1 Kebumen. Sejumlah pemain teater terlibat pada pementasan itu, antara lain Putut Ahmad Su’adi, Sahid Elkobar , Nunung (Teater Ego), penari Pipin Damayanti (PNS Guru),Pekik Sat Siswonirmolo (pengurus DKD), Sakum (Roso Kawedar).
Secara umum pentas seni, dari kabupaten berslogan Beriman, yang menggunakan bahasa gado-gado Bahasa Indonesia dan Jawa itu, cukup menggemparkan suasana panggung Jateng Fair 2016 di PRPP Semarang  di tengah minimnya pentas tradisional. Meskipun dalam guyuran hujan, tidak menyurutkan minat, pengunjung PRPP menggunakan payung menyaksikan pementasan. Penampilan Tari Cepetan yang juga disebut Dangsak cukup memukau pengunjung PRPP. Terbukti setelah pementasan banyak penonton yang berebut untuk foto bersama, dan tidak ketinggalan ada 2 orang anggota Polisi yang ikut berfoto dengan meminjam kostum Cepetan. Bahkan seusai pementasan para pemain Kethoprak Dangsak, khususnya penari Cepetan harus menuruti permintaan panitia untuk ikut pawai, diarak mengelilingi area PRPP. menggunakan kereta kelinci.
Kethoprak Dangsak Lakon Reksa Mustika Bumi merupakan produksi ke 4  dari Dewan Kesenian Daerah (DKD) bercerita tentang keteguhan local genius dalam mempertahankan kemerdekaan. Kethoprak Dangsak sendiri merupakan sebuah ijtihad kebudayaan Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Kebumen dalam rangka memacu kreatifitas dan semangat kolaborasi bagaimana kesenian khas Kebumen ini dapat lebih diterima oleh khalayak, maka memunculah satu jenis kesenian baru, sebuah pertunjukan kolaboratif kethoprak yang merupakan seni tradisi asli Indonesia modern, dengan berbasis lakon yang dinaskahkan dengan mengambil spirit dan cita rasa Dangsak atau Cepetan Alas yang merupakan potensi seni daerah kabupaten Kebumen.
Kethoprak Dangsak memiliki visi yang sejalan dengan fungsi seni sebagai wujud respon sosial, hingga pada prakteknya naskah-naskah yang dimunculkan diupayakan dapat kontekstual terhadap jiwa jaman dan memiliki sensitifitas tang tinggi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat, sehingga keberadaannya semakin berperan dan memiliki makna.
Lakon Reksa Mustika Bumi ini menarik karena konteksnya terhadap situasi kontemporer. Kasus krisis nasionalisme pada generasi muda merupakan ancaman bagi keutuhan NKRI, sehingga mempertahankan kemerdekaan dengan menjaga persatuan dan kesatuan  melalui pemberdayaan budaya yang berbasis kearifan lokal menjadi tanggung jawab semua warga masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kowe kabeh para pemuda ing desa kene nduweni tanggung jawab kang gedhe banget kanggo melu berjuang, mbelani bumi pertiwi. Kompeni aja diadepi nganggo gegaman, awake dewek mesti kasoran. anangin kudu diadepi kanthi cara olah budi daya kang wicaksana. Cepetan utawa Dangsak bisa dadi sarana kanggo ngusir kompeni saka bumi pareden kene. Sarate kowe para pemuda kudu gembleng nyawiji.” Salah satu dialog Ki Rekso (Pekik) pada salah satu adegan.
“Rasa capai selama persiapan dan latihan, lunas terbayar malam ini” kata Putut Ahmad Su’di yang bertindak selaku asisten sutradara, mengungkapkan rasa puasnya seusai menyaksikan pementasan.

Rabu, 26 November 2014

PELESTARIAN BATIK MELALUI PELATIHAN



 
Pemateri dari BLK Kebumen Roso Raharjo dan Rusmiyati dari SRMB Kebumen

Pemateri dari BLK Kebumen Roso Raharjo dan Rusmiyati dari SRMB Kebumen


Dalam rangka turut serta melestarikan batik sebagai warisan budaya dan meningkatkan kesejahteraan ibu-ibu di pedesaan melalui potensi lokal, maka Taman Bacaan Sanggar Ilmu Sadang Kulon  yang didukung oleh Sekolah Rakyat Melu Bae (SRMB) Kebumen, menyelenggarakan Pelatihan Batik bagi ibu-ibu di desa Sadang Kulon Kecamatan Sadang, yang dilaksanakan di rumah pasangan Nurnakhudin S.PdI-Ismowati. Pelatihan tersebut juga merupakan lanjutan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri Perdesaan, PNPM –Md bidang Permodalan dan Pendampingan Produksi Batik Tulis yang diikuti oleh 15 orang peserta dengan pemateri Roso Raharjo dari BLK Kebumen dan Rusmiyati dari Sekolah Rakyat Melu Bae (SRMB) Kebumen.
Menurut Rusmiyati  dari SRMB Kebumen dengan pelatihan batik bagi ibu ibu di desa Sadang Kulon selain melestarikan tradisi membatik di kalangan ibu-ibu di pedesaan, juga diharapkan dapat meningkatkan ketrampilan membatik dan meningkatkan kwalitas, sehingga batik yang dihasilkan akan menjadi lebih baik, dengan begitu maka produk batik dari Sadang Kulon nantinya akan lebih diminati pasar.
Pelatihan diselenggaran dari Selasa (28/10) sampai dengan hari Sabtu (1/11). Materi disampaikan dengan metode demonstrasi dan praktek langsung, yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban dengan diselingi  banyolan-banyolan lucu baik oleh pemateri maupun dari peserta.  Pada teknik pewarnaan pada batik disampaikan teknik Naptol, teknik Remasol atau Colet  dan Teknik Indigosol yang nantinya dilanjutkan dengan proses pelorodan yaitu proses akhir pada membatik. Ibu- ibu dari desa Sadang Kulon tampak antusias mengikuti pelatihan membatik tersebut.
 Kepala Desa Sadang Kulon Pujo Harjono, menyambut baik adanya pelatihan tersebut mengingat selama ini di masyarakat  Sadang Kulon belum pernah ada kegiatan membatik. Sebelum pelatihan dimulai Pujo Harjono menyatakan bahwa selama ini Sadang Kulon belum memiliki produk lokal yang menjadi unggulan desa, meskipun sebenarnya desa Sadang Kulon  memiliki bahan baku seperti bambu yang berlimpah yang dapat dikembangkan menjadi kerajinan anyaman bambu, akan tetapi sampai saat ini hanya dijual dalam bentuk bambu, belum dikembangkan secara maksimal menjadi hasil kerajinan yang memiliki nilai tambah.
Menurut pemateri dari BLK Kebumen yang juga seorang pengrajin batik  Roso Raharjo mengatakan bahwa pada saat sekarang ini kerajinan batik memiliki peluang pasar yang cukup besar mengingat  penggunaan pakaian dinas di lingkungan pemerintahan juga mewajibkan penggunaan pakaian seragam batik, apalagi nanti setelah diberlakukan Perbub no.43 tahun 2014, dimana mengharuskan penggunaan pakaian batik setidaknya  2 kali dalam satu minggu yaitu Batik Nusantara dan Batik Khas Kebumen. Dengan demikian  agar produk batik dari Sadang Kulon ini dapat lebih dikenal , maka dari pihak pemeritah Desa maupun Kecamatan Sadang harus memiliki kemauan untuk menggunakan produk batik tersebut pada hari-hari yang telah ditetapkan untuk berpakaian batik.

Senin, 17 Maret 2014

DEWAN KESENIAN DAERAH (DKD) KEBUMEN PEDULI BAHASA JAWA





Pekik Sat Siswonirmolo Ketua 1 DKD Kebumen menjadi nara sumber di acara Selamat Pagi Kebumen (SPK) berbahasa jawa.
 Sebagai tindak lanjut dari Dewan Kesenian Daerah (DKD) kabupaten Kebumen di dalam menanggapi Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah, nomor 9 tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa. DKD Kebumen bekerja sama dengan Ratih TV Kebumen dan In FM Kebumen, sejak bulan September 2013, secara rutin, setiap Jumat pagi mulai pukul 06.00 WIB di acara Selamat pagi Kebumen (SPK) menggelar acara yang secara khusus menggunakan bahasa pengantar bahasa jawa.
Pekik Sat Siswonirmolo Ketua 1 DKD Kebumen membaca berita di Pawartos Kebumen
 

Pekik Sat Siswonirmolo Ketua 1 DKD Kebumen membaca berita di Pawartos Kebumen


Pekik Sat Siswonirmolo Ketua 1 DKD Kebumen menjadi nara sumber di acara Selamat Pagi Kebumen (SPK) berbahasa jawa.


Pekik Sat Siswonirmolo Ketua 1 DKD Kebumen membaca berita di Pawartos Kebumen
Selain itu di setiap hari Minggu pagi DKD Kebumen di Ratih TV, mulai pukul 07.00WIB juga menggelar acara Pawartos Kebumen, yang merupakan acara berita berbahasa jawa.
Pada acara SPK Jumat(21/02) kemarin mengangkat tema materi Mengungkap Tembang Macapat di Kebumen. Pemilliha tema tersebut didasarkan atas keprihatinan DKD terhadap keberadaan tembang Macapat di masyarakat yang semakin dilupakan.Bahkan seni tembang macapat sangat asing dikalangan generasi muda.
Ada beragam tanggapan masyarakat terhadap pembahasan tema tersebut, yang pada intinya mendukung DKD dalam pelestarian budaya jawa pada umumnya, dan pada khususnya tembang macapat di Kebumen. Diantaranya permintaan dari masyarakat supaya ada pemberian pembekalan pengetahuan tentang tembang macapat, pada guru-guru, utamanya guru SD di Kebumen.
Nara sumber pada acara yang dipandu oleh presenter Agung Hariyadi (Ega) dari Ratih TV tersebut Bambang Budiyono yang lebih dikenal dengan Ki Bambang Budi Cermo Carito, seniman dalang dari Jatijajar, dan Pekik Sat Siswonirmolo dari Dewan Kesenian Kabupaten Kebumen.
Ki Dalang di akhir acara berharap agar masyarakat Kebumen mulai mau belajar dan peduli terhadap perkembangan seni tembang macapat. Beliau menyatakan kesanggupannya untuk menularkan pengetahuannya pada siapa saja yang ingin belajar tembang macapat.

Selasa, 28 Januari 2014

SMP 2 KUTOWINANGUN JUARA MAJALAH DINDING



SMP Negeri 2 Kutowinangun berhasil menjadi juara 1 tingkat kabupaten Kebumen pada lomba majalah dinding (Mading) Anti Korupsi.  Lomba  diselenggarakan oleh SMA Negeri 1 Bulus Pesantren  dalam rangka  Program Pendidikan Anti Korupsi Pendidikan Menengah, Selasa 17 September 2013. Sedangkan juara 2 diraih oleh SMP Negeri 2 Buluspesantren.
Tim Mading yang terdiri dari Putri Dinda Ayu Nur Cahaya siswa kelas IX E, Wiji Lestari kelas IX A dan Fikri Doni Siswanto kelas VIII A memenangkan lomba Mading Anti Korupsi, setelah menyisihkan puluhan Tim majalah dinding dari berbagai utusan sekolah baik SMP maupun SMA se Kabupaten Kebumen. Pada para juara mendapatkan hadiah Tropy, sejumlah uang pembinaan dan piagam.
Tim Mading yang terdiri dari Putri Dinda Ayu Nur Cahaya siswa kelas IX E, Wiji Lestari kelas IX A dan Fikri Doni Siswanto kelas VIII A Foto bersama Kepala Sekolah
 Persyaratan pada Lomba Mading tersebut  harus merupakan hasil karya orisinil dari setiap peserta yang belum pernah diikutkan dalan lomba sejenis lainnya, menggunakan media Styrofoam ukuran 70 x 80 cm yang dibawa sendiri oleh peserta dengan kriteria lomba meliputi; Kesesuaian isi mading dengan tema, Estetika dan Sistematika.
Materi Mading yang dibuat tim dari SMP 2 Kutowinangun pada saat lomba, menurut  Dra. Tri Wahyuni, MM, guru pembimbing kegiatan ekstra kurikuler majalah dinding SMP Negeri 2 Kutowinangun yang menjadi pendamping saat lomba, termasuk cukup lengkap, meliputi beberapa artikel, puisi, humor dan gambar-gambar karikatur, yang kesemuanya bertemakan pendidikan anti korupsi. Lebih lanjut Tri Wahyuni berharap agar pendidikan anti korupsi perlu sedini mungkin disosialisasikan kepada siswa.
Kepala SMP Negeri 2 Kutowinangun H.Sugiyatno, S.Pd, M.Pd menyambut gembira atas prestasi yang diraih oleh siswa-siswinya. Beliau berjanji; Pihak sekolah akan terus mendorong agar para siswa memiliki kesempatan mengembangkan potensinya hingga dapat berprestasi, baik dibidang akademis maupun non akademis melalui berbagai program kegiatan intra dan ekstra kulikuler sekolah.

SEKOLAH RAKYAT MELUBAE (SRMB) SUDAH BERUSIA 11 TAHUN




Majelis itu bernama Sekolah Rakyat Melubae atau sering disingkat SRMB. Sekretariatannya berada di Jalan Sawo  Pasar Rabuk Kebumen. Baru-baru ini merayakan ulang tahun yang ke-11.Beberapa acara di gelar, antara lain Musikalisasi Puisi Kuputarung, Jemblung Garap SRMB, dan Pemutaran Film Indie siswa SMK 1 Kebumen
Logo Sekolah Rakyat Melubae ( SRMB ) Kebumen

Kasepuhan SRMB Mbah Limin Malik Hasyim
Kegiatan Musik Puisi dari SRMB

Kegiatan Musik Puisi dari SRMB

Pamong SRMB Pekik Sat Siswonirmolo berdoa di Among-among 10 tahun SRMB
Tumpeng 10 Tahun SRMB

Kluban di Among-among 10 tahun SRMB
Jajan Pasar Tumenggungan di Among-among 10 tahun SRMB

Kluban dan Pacitan di Among-among 10 tahun SRMB
Pamong SRMB Pitra Suwita baca puisi di Among-among 10 tahun SRMB

Cover Antologi Puisi Kuputarung. Produksi SRMB
Para Penjaga Sekolah Rakyat Melubae Kebumen

FESTIVAL JANENG 2013 DI TAMAN SARBINI KEBUMEN

Penampilan salah satu Peserta Festival Janeng 2013

Penampilan salah satu Peserta Festival Janeng 2013

Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kebumen menyaksikan Festival Janeng 2013 di Taman Sarbini Kebumen